--------- HALLO!!-------- ------SELAMAT DATANG----- Di BLOG T.ELEKTRO D40011---- SEMOGA ANDA NYAMAN DENGAN BLOG KAMI- ^,^"
Teknik Elektro D40011: 2012

Kamis, 11 Oktober 2012

Sekilas Mengenai AVR

 Kali ini saya akan membahas mengenai sebuah mikrokontroler yang sedang jadi trend di saat ini yaitu mikrokontroller AVR.
AVR itu sendiri memiliki kepanjangan yaitu Alf, Vegard and RISC salah satu kepanjangan tersebut yaitu RISC, memiliki kepanjangan lagi yaitu Reduced Instruction Set Computing, dimana setiap instruksi dalam mikrokontroler ini dapat dilakukan dengan 1 siklus mesin saja, atau 1 siklus clock, berbeda dengan mikrokontroller dari keluarga MCS-51 yang masih menggunakan CISC architecture (Complex Instruction Set Computing) yang membutuhkan 12 siklus mesin atau 12 clock untuk melakukan satu buah instruksi, ini berarti mikrokontroler AVR dapat bekerja lebih cepat dan lebih presisi ketimbang mikrokontroler MCS-51, dengan menggunakan eksternal clock 4 MHZ, setara dengan mikrokontroler MCS-51 dengan external clock 48 MHz, padahal mikrokontroller MCS-51 di pasaran maksimal dapat beroperasi dengan 33MHz eksternal clock

untuk dalam posting kali ini saya akan membahas satu jenis dari mikrokontroler AVR yaitu ATMEL ATMEGA8535, jenis mikrokontroler AVR sendiri ada sangat banyak, mulai dari ATtiny, AT90Sxxx dan lain-lainnya
di dalam mikrokontroler AVR ini, sudah terdapat internal clock sebesar 1 MHZ, jadi kita dapat mengoperasikan mikrokontroler ini tanpa eksternal clock, meskipun kecepatan yang didapat juga sangat terbatas, sedangkan mikrokontroler MCS-51 tidak terdapat internal clock, sehingga harus ditambahkan dari luar mikrokontroller tersebut

dalam hal fitur, sudah barang tentu AVR jauh lebih lengkap ketimbang pendahulunya, yaitu MCS-51, di dalam AVR sudah include EEPROM yang dapat diprogram saat mikrokontroler tersebut beroperasi, sehingga sudah memenuhi syarat untuk membangun embedded sistem, ada lagi di salah satu port nya terdapat Analog to Digital Converter (ADC) untuk mengkonversi tegangan analog menjadi angka biner digital, berbicara mengenai analog, tidak sampai disitu, bahkan di dalam mikrokontroler ini juga sudah terdapat analog comparator!

berbicara mengenai mikrokontroler, tentu tidak luput dengan program PWM atau Pulse Width Modulation yang biasa digunakan untuk mengontrol kecepatan motor arus searah dan enaknya, mikrokontroler AVR menyediakan 4 channel PWM dan dengan mudahnya kita membuat program yang membutuhkan PWM tanpa mesti berpanjang2 mengatur timer dan ketiga timer yang dimiliki oleh mikrokontroller AVR tersebut dapat beroperasi untuk mengeluarkan PWM, banyak sekali fitur yang dimiliki oleh timer mikrokontroler AVR ini, seperti real time counter, sehingga dapat memudahkan kita untuk membuat penghitung waktu sebagai jam digital




ini adalah pembukaan dari kemungkinan postingan berikutnya mengenai mikrokontroler AVR dari blog saya, doakan saya semoga sukses belajar AVR gan!!!

oh iya, bicara mengenai pemrograman AVR, Atmel sendiri sudah menyesuaikan arsitektur mikrokontroler ini agar dapat mudah diprogram dengan menggunakan bahasa C, dan memang kebanyakan programer menggunakan mikrokontroler ini dengan melakukan program melalui bahasa C untuk berikutnya di compile ke intel HEX, saya sendiri mencoba belajar dengan menggunakan bahasa rakitan AVR, mudah-mudahan posting berikutnya akan terlaksana, untuk pertama-tama saya sudah merencanakan membuat jam digital dengan AVR mikrokontroler tetapi dengan menggunakan bahasa assembly/rakitan

salam

Minggu, 08 Juli 2012

Depletion Enhancement MOSFET



DEMOSFET atau Depletion Enhancement MOSFET. Gambar di bawah menunjukan struktur dari suatu DEMOSFET. Seperti dapat kita lihat pada gambar, DEMOSFET hanya mempunyai satu daerah P yang disebut Substrate. Karena disini gate diisolasi terhadap saluran, maka MOSFET ini dapat diberi tegangan positif dan negatif.


Membedakan Macam-macam FET dan Keluarga Transistor

Dari keluarga transistor, kita mengenal ada jenis BJT dan UJT. NPN dan PNP termasuk jenis BJT, sedangkan FET termasuk jenis UJT. Ada dua macam FET, yaitu:
  1. Junction Field Effect Transistor (JFET) atau cukup dengan FET, dan
  2. Metal Oxide Semiconductor FET (MOSFET)

Sedangkan MOSFET dapat dibedakan menjadi

  • Depletion Enhancement MOSFET (DEMOSFET), dan
  • Enhancement MOSFET (EMOSFET)

Jadi pada prinsipnya transistor dapat diklasifikasikan sebagai berikut

family-klasifikasi-transistorthanks to :elektronikabersama.web.id

MOSFET (Metal Oxide Semiconductor FET)



Metal Oxide Semiconductor FET atau MOSFET adalah komponen aktif dari keluarga transistor jenis UJT. MOSFET sering juga disebut dengan Insulated Gate FET atau IGFET, hal ini disebabkan karena gate pada MOSFET tidak langsung berhubungan dengan saluran, tetapi diisolasi oleh suatu lapisan oksigen logam yang tipis (biasanya silikon dioksida).




Kelebihan dan Beberapa Seri IC Regulator Tegangan 78xx dan 79xx

Rangkaian catu daya menggunakan IC regulator lebih sederhana bila dibandingkan dengan menggunakan dioda zener. Selain itu Regulator-regulator tegangan 78xx atau 79xx memiliki presisi output sebesar ±4%, yang relatif lebih baik daripada yang dapat diberikan oleh stabilisator berbasis zener. Tegangan output yang dihasilkan akan bervariasi tidak lebih dari 1% ketika tegangan catu berubah-ubah, dengan syarat bahwa selisih tegangan catu tersebut adalah 2,5V atau lebih.

Selasa, 17 Januari 2012

TUGAS UAS SMESTER 1



#include<stdio.h>
#include<iostream.h>
#include<conio.h>

atas()
{
puts("\n --------------------------------------------------------------");
puts(" ==============[TUGAS UAS 2012]=============") ;
puts(" --------------------------------------------------------------\n\n");
}

data_siswa()
{
char nilai_huruf;

printf("\n\t\t  MENGISI NILAI SISWA\n\n");
int matrix[51],x;
int i,j;



for(i=0;i<=50;i++)
{ printf("\nNim Mahasiswa D4001100 %d\n NILAINYA  =\t",i);
cin>>matrix[i];
    }


 puts(" \n\nHASIL INPUTNYA : \n\n");
for(i=0;i<=50;i++)
{
printf("\n------------------------------------------------------------------\n");
printf("nilai mahasiswa:D4001100 %d\ \t\tNILAI :%d ",i,matrix[i]);
   printf("   |");
   if (matrix[i]>80)
      {
      puts(" MENDAPATKAN : A");
      }
      else
      if (matrix[i]>70)
       {
       puts(" MENDAPATKAN : B");
       }
          else
       if (matrix[i]>60)
       {
       puts(" MENDAPATKAN : C");
       }
             else
       if (matrix[i]>40)
       {
     puts(" MENDAPATKAN : D");
       }
                else
             puts(" MENDAPATKAN : E");
             }
cout<<endl;

 getch();
 }

 main()
 {
 atas();
 data_siswa();
 }

Minggu, 08 Januari 2012

matrik dua dimensi

//array dua dimensi


#include<stdio.h>
#include<iostream.h>
#include<conio.h>

main()
{
printf("----------------[matrik dua dimensi]--------------\n\n");
awal://Kembali keawal dari goto
clrscr();//membersihkan layar
int matrix[4][6]; // ket matrik 4 baris dan 6 colom
int i,j;// ket variabel i & j sebagai interger (bil.bulat)

for(i=1;i<=4;i++)// ket. untuk i=0,saat berhenti perulangan i kurang sama dengan 3,nilai pertambahan i +1
{                                    
for(j=1;j<=6;j++)// ket. untuk j=0,saat berhenti perulangan j kurang sama dengan 5,nilai pertambahan j +1
{

printf("Masukkan angka pada baris ke %d kolom ke %d =",i,j);
cin>>matrix[i][j];//input nilai matrik [i][j]
}
cout<<endl;
}
for(i=0;i<=4;i++)
{
for(j=0;j<=6;j++)
{
printf("%d\t",matrix[i][j]);
}
cout<<endl;
}
char x;
printf("ketik y untuk melanjutkan:" );
scanf("%s",&x);
if(x=='y'||x=='Y')
 {
goto awal;
 }
getch();
}